Showing posts with label Atit Dwi Indarty. Show all posts
Showing posts with label Atit Dwi Indarty. Show all posts

Friday, June 10, 2011

Pengamen dalam bus


MUSIK ADALAH JALAN HIDUP KAMI

Pengamen ini dijamin ada dalam bus AC pagi nomor 16 Lebak Bulus-Rawamangun. Membawakan tembang-tembang religious dan pop melayu. Suaranya khas dan renyah bagi kami para penumpang yang masih mengantuk karena kurang tidur.
Berbicara soal pengamen memang tidak ada habis-habisnya. Mereka adalah pemusik yang menyandarkan hidupnya pada sedekah dari pendengarnya atas musik mereka. Terkadang mereka menyanyi atau bermain alat musik seadanya hanya untuk bisa menyambung hidup hari itu saja, kadang juga mereka adalah musisi yang handal, dengan modal belajar musik otodidak dan dari belajar di jalan. Tema lagu merekapun amat sangat bervariasi: top 40 indonesia, top 40 barat, classic slow rock, religious islam, religious kristen, cult Ebiet G Ade, cult Iwan Fals, lagu-lagu daerah Betawi sampai pada lagu anthem "anak jalanan". Tergantung siapa yang menyanyikan, kita bisa menikmati, tapi ada juga yang asal-asalan. Dan seperti halnya pekerjaan yang lain, pengamen harus konsisten. Suara dan tehnik bernyanyi harus selalu dipoles. Ada beberapa pengamen dalam bus pergi-pulang kantor saya yang selalu saya harap dapat bertemu dan memberi mereka imbalan atas musik yang mereka bawakan bagi kami para pekerja/penumpang (contohnya pengamen diatas).

Pengamen ini bermain pas didepan saya. Jadi saya bisa membuat sketch detail raut muka dan penghayatan lagunya. Walaupun bahasa Inggris yang blepotan dan asal ucap, olah vokal dan musiknya top punya.

Yang satu ini temanya religious Kristen. Lagu favoritnya adalah El Shadai yang refnya diulang-ulang dengan penghayatan yang dalam. Layaknya didalam gereja dan kebaktian-kebaktian.
Tamara Rendi, seorang musisi jalanan dengan spesialisasi lagu-lagu religious kristen. Sangat bersahabat dengan penumpang dan para supir dan kernet. Kadang dia juga ikut memanggil2 para penumpang dan memberi "bocoran" info pada para kernet tentang bus yang sudah lewat atau yang belum. Pada saat selesai malah mengobrol dengan para penumpang dibelakang. Suaranya yang lantang, sengau dan khas (mungkin Batak atau Manado) bisa terdengar di belakang saat bercengkrama dengan penumpang lainnya. Dia juga sangat religious dan selalu menyempatkan diri bersaksi dan dalam Kristus dalam setiap aksinya. Sampai sekarang saya tidak tau apakah Rendi ini seorang laki atau perempuan, walaupun penasaran saya tidak akan cari tahu.

Ada juga yang tampangnya sangat nge-Rock tapi pada saat menyanyi malah membawakan ladu-lagu daerah dan tembang2 pop Betawi ala Benyamin n Ida. Yang membanggakan, dia membawakan lagu-lagu ini dengan campuran alunan musik kroncong dan latin classical (ala Marc Antoine n Santana). Hebat bukan?

Mari kita dukung terus para pengamen kita ini. Beri mereka sesuatu untuk lagu-lagu yang mereka bawakan untuk kita. Siapa yang tahu tentang nasib mereka apabila Pemda Jakarta tiba-tiba mentertibkan dan meniadakan keberadaan mereka dari alat transportasi umum kita? Yang tertinggal hanyalah sketsa-sketsa ini. Hidup musik, hidup para pengamen.

Wednesday, May 19, 2010

The Houses on the Side of Pejompongan's Railway

 


If we travel by train in Jakarta, we would see lots of seems-like-temporary-houses on the side of the railway. The houses made from cheap plywood, corrugated iron, and used wood.
Both budget and people who live there causing it difficult for the government to move them into a proper place.

Wednesday, May 12, 2010

Ancient site: Kaibon Palace & Fort Speelwijk, West Java

On one sunday morning we went to Banten historic sites. We set The Ruins of Kaibon Palace as our first destination, next is The Great Banten Mosque and then Fort Speelwijk.(well actually we went to several sites).
Yoso and i, wanted to sketch the location and also see those beautiful places with our own eyes. 
My other two friends; Davinna and Cita, the ancient places lover, they look around, took photographs and observe.
This was a great journey. It's not just traveling to other (near) city, but also traveling through time.
I tried hard to understand and imagine how was this place look like in previous time. Well, i didn't get it ;p, just some blurry visions.

my sketching thing? oh, i just got 3 sketches in these places! one each! what a shame! i over excited with this ruins. next time (i definitely will go to this place again) i'll do better.



These sketches are not so urban..but i may say, this is one of urban people's interest :)


Kaibon Palace: The room of Queen Aisyah


The Great Banten Mosque: Outside the area, so full of variety stall.


Fort Speelwijk: A shortcut to another side 


Here's a short history of Kaibon Palace:
"Refer to its name Kaibon, derived from word 'Ibu' (mother/Keibuan). This palace ruled by a queen for temporary. The palace name was coined from the fact that Sultan Muhammad Syaifudin (the last Banten sultan) built it as a gift to his mother, Queen Asyiah. Since the king who supposed to be in throne was not adult yet. Sultan Syaifudin was 5 months old when he got the reign. Now remain the ruins with moats and Small River nearby and have gorgeous gateway.

Keraton Kaibon lies about one kilometer from the Banten Grand Mosque. This palace had erected in the early 19th century, it sits on an immense 15,000 square meters. The premises were broken into at the order of Dutch Governor General Daendels in 1813, (subsequently ending the sultan's reign) and then damaged by the Dutch in 1832. Today, the ancient walls, foundations, the gateway and main gate bear truth to the once-powerful Banten Sultanate. The admission of this area is free".

(source: http://www.indonesia-tourism.com/banten/kaibon-palace.html)
And this is a short history of Fort Speelwijk:
"Fort Speelwijk was built in 1682 by VOC and expanded in 1685 and 1731 to control the activities of the Banten kingdom and protect the Dutch interests at Banten. Situated not so far from Chinese temple Avalokiteshvara, this fortress directly facing to the sea. From this point, the Dutch troopers was watching and guarding the fort from pirates and local heroes. Inside the fortress, there's an Old Dutch cemetery. One of the buried bodies is a man who was born in Bergen-op-Zoom in 17th century. The Ruin of fortress implies that it was a great fortress in Banten, height about 5 meters and length of each side of 80 meters; also the canal for defense surrounded it. It has four bastions that still stand sturdily."
(source: http://www.indonesia-tourism.com/banten/speelwijk.html)

Link to my blog to see some images of Kaibon Palace: 
http://hembusansemilir.multiply.com/photos/album/89/Ancient_site_Kaibon_Palace_Banten_Lama_Serang_Banten

Tuesday, January 19, 2010

Sketching & Sharing with Indonesia's Sketcher' members

It was raining when we gathered for the 4th IS Sketching & Sharing.
The place was so calm and a little bit cold. The trees were stand there giving the feeling of a friendly place.
It was TIM (Taman Ismail Marzuki), a place where many artists usually set their agenda to meet their fellow artist.
The rain poured, and then stop, and then poured again..the whole day.
It was fun meeting other friend and did the sketch together.

And these are my sketches during that day

food court under the trees



book shop



night sketching: Formule 1 Hotel, view from TIM.

Wednesday, December 2, 2009

Masjid & Atap Rumah di Perkampungan

Sore ini saya berkunjung ke rumah teman yang berada di sebuah perkampungan di Bekasi.
Kebetulan rumah teman saya tingkat dan memiliki balkon. Jadilah saya dan beberapa teman 'bermusik kecil' di sana.
Sambil menikmati musik dan angin silir, saya memandangi sekitar area itu, yang terlihat, tentu saja setengah atap-atap rumah..entah kenapa, saya selalu menikmati pemandangan itu walaupun semrawut dan kita tahu bahwa Indonesia punya banyak sekali pemandangan seperti itu.



Lalu, adzan berkumandang dari Masjid yang ada di tengah-tengah area dan kamipun berhenti bernyanyi.
Adzan dari pengeras suara Masjid menjadi 'alarm' bagi penduduk untuk tidak lupa 'berkomunikasi' dengan Tuhan.