Wednesday, July 6, 2011

Lawang Sewu

Lawang Sewu pascapugar

Gedung Lawang Sewu yang terletak di seputar Tugu Muda Semarang, dinyatakan sebagai Bangunan Cagar Budaya yang perlu dilestarikan. Setelah dilakukan pemugaran selama dua tahun, kini bangunan A yang berdenah V dengan menara kembarnya itu tampak berseri kembali. Anggun, halus, detail dengan ornamen yang luar biasa. Arstistik! Setelah diresmikan penyelesaian pemugarannya pada tahap ini, pada tanggal 5 Juli 2011 oleh Ibu Negara Ani SBY, berbondong orang datang mengagumi keindahan bangunan itu. Suasana menjadi lebih semarak karena selama 5 hari mengikuti peresmiannya itu diselenggarakan pameran berbagai produk kerajinan nasional, stand kuliner nusantara yang laris manis, dan beberapa kegiatan lainnya termasuk panggung hiburan. Citra selama ini pada gedung yang lama diterlantarkan itu sebagai bangunan kotor, gelap dan kumuh, tempat para peri, makhluk gentanyangan, “penampakan”, dan entah apa lagi. Ia dikenal dengan Lawang Sewu oleh masyarakat karena gedung berlantai dua plus loteng itu memiliki ratusan pintu.


Dari kiri: saya dan Auly sedang sketsabareng, wajah Lawang Sewu dari balik pohon, elemen estetis kaca patri di entrance hall,
dan Lawang Sewu A dari dalam (arah bangunan B)


Gedung Lawang Sewu semula merupakan kantor pusat perusahaan kereta api pertama Hindia-Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij (NIS). Dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907 dengan 300 orang pekerja setiap harinya. Bangunan yang didesain oleh arsitek Prof. Jacob K Klinkhamer dan BJ Oendaag pada awal abad ke-20 ini diyakini sebagai potret kebudayaan urban Semarang, dan merupakan salah satu contoh peninggalan kebudayaan materi. Pada masanya menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan di kota-kota lain, seperti Soerabaia (Surabaya), Batavia (Jakarta), dan Bandoeng (Bandung).


Sketsa dari halaman samping

Sketsabagian belakang (dari lantai 2 gd. B)

Setelah pemugarannya, terdapat segudang harapan untuk memanfaatkan gedung Lawang Sewu. Ada keinginan agar dapat dikembangkan menjadi sebuah wadah yang dapat mendorong pertumbuhan kekayaan industri kreatif di Jawa Tengah. Juga sebagai sarana kegiatan alternatif, ruang pameran, pergelaran seni, ruang seminar dan rapat, ruang sewa perkantoran, ruang sewa pertemuan, pesta taman. Sebagai living museum, mengingat keunikan bentuk dan keindahan arsitekturnya. Lawang Sewu lalu tidak semata dipandang sebagai historical heritage, melainkan juga sebagai cultural resource, yang mampu menjadi sumber daya budaya. Dengan demikian Lawang Sewu pada saatnya akan mampu menghidupi dirinya sendiri untuk pembiayaan konservasinya, bahkan menghidupi lingkungannya. Semoga... (catatan: asal tidak “bocor”).

Nasibmu Lawang Sewu, kita tunggu!



7 comments:

rudi hartanto said...

sebuah deskripsi yang sangat edukatif, semuga Lawang Sewu semakin cantik dan penuh daya tarik.

Gunawan Wibisono said...

Sketsa sketsa yang cantik dan penjelasan yang menarik.

Andieirfan Nobinobi said...

sekarang Lawang Sewu jadi keliatan segar dan tidak menyeramkan lagi. :)

DHAR CEDHAR said...

lawang sewu selalu menarik jadi obyek sketsa maupun lukisan. saat saya SMP sering melihat seniman KS3 SMG merekam bangunan ini di atas kanvas.
Sketsa dan story telling yg mengesankan, pak. Salut!

NASHIR said...

bersyukur bisa lihat sketsa-sketsa cantik...guratan garis yang mempesona, objek menjadi lebih representatif dan disajikan dengan menu yang kaya informasi...

NASHIR said...
This comment has been removed by the author.
Erna Wahyuningsih said...

Kereeeeeeeeeeeeeennnn!!!!
semoga dapat memotivasi para genersi selanjutnya untuk terus berkarya dan lebih peka terhadap apa-apa yang ada di sekitarnya... Ayo semangat berkarya dan berapresiasi!!!! ;)